Minggu, 17 Oktober 2010

Adab Berdoa

Pertama, memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tangannya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi’, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan?” (HR. Muslim).

Kedua, hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama, seperti:

1. Tengah malam. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:

“Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hamba-Nya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.”

Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” (HR. Ahmad).

2. Saat sujud. Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian.”

3. Ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda:

“Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diistijabah.”

4. Antara adzan dan iqamat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.”

5. Ketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertolak, doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”

6. Ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan ketika hujan turun.”

7. potongan waktu akhir di hari Jum’at. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar.”

8. Doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata, “Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali malaikat berkata, ‘Bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.”

9. Hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.”

Ketiga, berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan.

Dari Salman al-Farisi berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.”

Keempat, dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak ada/gaib.”

Kelima, tidak melampaui batas dalam berdoa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. al-A’raaf: 55).

Contoh melampaui batas dalam berdoa adalah minta disegerakan azab atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim, dan sebagainya.

Keenam, rendah diri dan khusyuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. al-Anbiyaa’: 90).

Ketujuh, sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. Dari Abu Hurairah Radiallahu ‘anhu, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka jangan berkata, ‘Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan’ tetapi hendaknya bersungguh-sungguh dalam meminta dan menunjukkan kebutuhan.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya (dikabulkan) karena Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Berkata iblis, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” (QS. al-Hijr: 36–37).

Kedelapan, hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali. Ibnu Mas’ud berkata, “Adalah Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali.’ Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.”

Kesembilan, hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesepuluh, taubat dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan. Dari Umar bin Khathab Radiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, tetapi memikul doa, maka ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan bersamanya.” Ia melanjutkan, “Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan mengabulkan doa dan tasbih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud Radiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main, senda-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.”

Dari Abu Darda’ berkata, “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata, “Bersungguhlah dalam berdoa karena siapa yang memperbanyak mengetuk pintu, ia yang akan masuk.”

Dari Hudzaifah berkata, “Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.”

Menghindari kesalahan dalam berdoa

Ada beberapa praktik doa yang di sebagian umat muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang doa dikabulkan. Di antaranya adalah:

Pertama, Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa. Dari Jabir Radiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian berdoa untuk kemudharatan diri kalian dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian.” (HR. Muslim).

Kedua, terlalu keras dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah ar-Rahman.’ Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. al-Israa’: 110).

Ketiga, melampaui batas. Seperti berdoa agar disegerakan azab, doa dengan dicampuri dosa dan memutus tali silaturahim.

Keempat, Berdoa dengan pengecualian. Contoh: “Ya Allah, ampuni saya jika Engkau berkenan.”

Kelima, tergesa-gesa. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi?” (HR. Bukhari).

Demikian, uraian singkat tentang keutamaan doa di bulan Ramadhan, adab berdoa, waktu-waktu yang istijabah, dan hal-hal yang harus dihindari ketika berdoa. Semoga kesungguhan doa kita, terutama di bulan suci ini didengar Allah. Amin. Allahu a’lam.

sumber:http://nisrinareligi.wordpress.com/2010/10/17/adab-berdoa/

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Free Samples